Kamis, 30 Desember 2010

PANSOH PULOT

Asa nyau kak semak gawai, keba ensia sibok bepulah keba jajak, lulon, jimot,pansoh pulot,,,
bebunoh keba pengidop... ntek adai babi, munoh babi, ntek nisek pebasa kelintang munoh manok.....
ngau ngentang keba pengabang datai..... ti paleng nitau tingal saja beram arak, pasti jadi no satu....
rami keba ensia bejapoh....
nadai ugai perami ntek gawai ke kampong mualang.....

Rabu, 29 Desember 2010

ORang yang paking ku cinta didunia, ia telah tiada pd 31 januari 2007.... selamat jalan pa, smoga dirimu tenang di sana_ cintamu abadi slamanya_ love u my father...
empai, maf kh ku mpai, nisek ti tau ku pulah mayoh ngau wan_
memang amat ajakok urang kasih anak tulu sepanyai jari_
kaseh wan sepanjang masa_
ku yaki kita tau berkumpul sama"  suatu saat ke rejaan Tuhan....
kasihmu menyelamatkan mu....

Selasa, 28 Desember 2010

TRADISI BEKANA

Nenek moyang suatu suku atau bangsa biasanya mewariskan ajaran hidup bagi penerusnya. Leluhur masyarakat Dayak Mualang, salah satu subsuku Dayak di Kalimantan Barat, mewariskan ajaran hidup itu melalui karya seni kana, prosa liris yang dilantunkan.
Sebelum tahun 1979, kana masih bisa disaksikan dalam berbagai acara adat seperti pernikahan dan pesta panen. Akan tetapi, setelah masa itu nyaris tak ada pengana, seniman kana, yang menyampaikan kebajikan hidup dalam acara adat melalui kana.
Tradisi lisan yang dianut masyarakat Dayak menyebabkan syair kana tak bisa dipelajari generasi penerus sehingga tidak terjadi proses alih generasi pengana. Apalagi, sastra dalam bahasa Dayak Mualang termasuk seni bertutur yang sulit dan tak setiap orang bisa menguasainya.
Kana dibawakan seperti layaknya orang menyanyi, dengan nada-nada yang cenderung resitatif atau diulang-ulang dan cengkok khas nyanyian Dayak.
Di sini Elias Ngiuk tekun mengumpulkan bahan lisan dari para pengana dan mempelajari satu-satunya sumber pustaka yang dibuat Pater Donatus Dunselman tahun 1955. Kini ia bisa meneruskan tradisi bekana, menyanyikan prosa liris bait-bait kana.
”Saat kecil, saya masih bisa melihat tradisi bekana dalam acara-acara adat. Audiens yang mendengarkan lantunan kana kadang kala menyahut syair, untuk memberi semangat kepada pengana agar terus bertutur,” kata Ngiuk.
Setelah beberapa dekade tak pernah melihat kana dalam acara adat, Ngiuk tergerak mencarinya. ”Saya berniat menggali tradisi itu supaya tidak hilang,” katanya.
Bekana adalah tradisi melantunkan bait-bait kana dalam acara adat. Kana menuturkan kebajikan hidup leluhur Dayak Mualang dalam hidup bermasyarakat, berinteraksi dengan alam, dan bertingkah laku sehari-hari. Kana juga menampilkan kisah kepahlawanan para tokoh di Pangau, negeri angan-angan masyarakat Dayak Mualang yang tenteram.
Tradisi bekana, dulu, menjadi salah satu ciri khas masyarakat Dayak Mualang yang berkembang di sejumlah wilayah di Kabupaten Sekadau, Kalbar, seperti Kecamatan Belitang Hilir, Belitang Hulu, dan Belitang Tengah.
Ketertarikan Ngiuk terhadap seni kana sudah mulai sejak ia kecil, saat sering melihat pengana melantunkan bait-bait berisi ajaran hidup.
”Saya sering mendengarkan kana sampai menjelang pagi. Bekana itu bisa semalam suntuk,” katanya.
Menyambangi pengana
Untuk mengumpulkan bahan mengenai seni bertutur kana dari sumber-sumber lisan, setiap pulang libur kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Ngiuk menyambangi para pengana di kampung-kampung. Sejak tahun 1994 sampai 1997, ia hampir tak pernah absen berguru kepada para pengana.
”Saya masuk ke kampung- kampung mencari pengana. Setelah bertemu beberapa pengana, baru saya menulis tradisi kana pada 1997-2000. Studi kasus salah satu jenis kana, Kana Tangi Pungak Taban Tangui (Kana Pungak Terbawa Caping) yang hanya boleh di-kana-kan saat musim menugal (menanam padi di ladang), saya jadikan tugas akhir. Saya bisa lulus ISI tahun 2003 setelah 20 semester kuliah berkat kana,” ceritanya.
Dalam skripsinya, Ngiuk mendokumentasikan syair Kana Tangi Pungak Taban Tangui sebanyak 985 ayat dalam bahasa Mualang yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ini menjadi dokumen tentang kana terlengkap, setelah Kana Sera yang didokumentasikan Donatus Dunselman.
Ngiuk menemukan empat orang pengana dari komunitas adat Dayak Mualang, yakni almarhum Muri Entubik, almarhum Tanun, almarhum Djeragam, dan Jeriah. Sambil mengumpulkan bahan dan mempelajari tradisi kana, ia belajar melantunkan bait-bait kana itu.
Tanpa disadari, Ngiuk mampu menuturkan bait-bait kana dengan baik. Padahal, seni bertutur itu termasuk sulit. ”Setelah masuk-keluar kampung, baru saya tahu ternyata nenek moyang saya itu pengana ulung. Beberapa orang mengatakannya. Almarhum bapak saya juga cerita.”
Kakek buyut Ngiuk, Macan Ria Ngiuk, adalah pengana ulung tahun 1900-an hingga 1945-an. ”Setiap singgah di suatu kampung, dia selalu bekana tanpa disuruh. Masyarakat datang dan mendengarkannya hingga selesai.”
Dalam acara adat yang mengagendakan bekana, Ngiuk biasa mengisinya. Dari kana utuh satu babak yang membutuhkan waktu semalam suntuk hingga kana penggalan untuk beberapa jam, ia bisa melakukannya.
Kini, jarang kana dilantunkan utuh karena tak banyak orang yang mampu begadang semalam suntuk menyimak bait-bait kana. ”Sekarang yang lebih sering dituturkan adalah Kana Peranak, yang pendek-pendek dan berkisah tentang keseharian masyarakat,” katanya.
Tenggiling
Masyarakat Dayak Mualang meyakini kana adalah nyanyian manusia jadi-jadian dari tenggiling. Suatu ketika, dalam upacara adat di rumah panjang, tiba-tiba manusia jadi-jadian itu datang dan menyanyi dengan syair sebagai berikut:
Begumu becelatu munyi lelabu numpu Putan pinang; Ka’ ngai rang kiba’ betingka’ munyi kebancak lelak de payak langkang; Lungung lidahku bekutah munyi perdah tangkah pulai ngeruah umang tebang; Ka’ lungung becengangeng nema Tengiling begigi rabang (Bergumam menderu seperti bunyi puputan memompa angin ke rongga puputan batang pinang. Enggan rahang kiriku berimbalan seperti bunyi kodok tidak berdaya di lumpur tanpa air. Enggan lidahku bergerak bercerita bagaikan bunyi gagang beliung pulang setelah menuangkan sampah kayu tebangannya. Enggan bergumam bercerita karena tenggiling tak bergigi).
”Nyanyian tenggiling itu menjadi bait pembuka kana,” katanya.
Berdasarkan tema, kana dibagi menjadi Kana Tangi dan Kana Tapuk, Kana Sera (Kana Adat), dan Kana Peranak. Kana Tangi dan Kana Tapuk bertutur soal negeri Pangau, Kana Sera bercerita tentang ayah yang bersedih mengenang kematian anaknya. Sementara itu, Kana Peranak tentang kondisi masyarakat.
Kana juga bisa dibedakan menurut waktu pementasan, misalnya Kana Sera hanya untuk pesta pernikahan. Kana Sera tak boleh dilantunkan dalam acara adat lain karena akan menimbulkan kesulitan hidup bagi pengana.

ASAL USUL DAYAK

Asal Usul

Dayak merupakan sebutan bagi penduduk asli pulau Kalimantan. Pulau kalimantan terbagi berdasarkan wilayah Administratif yang mengatur wilayahnya masing-masing terdiri dari: Kalimantan Timur ibu kotanya Samarinda, Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Banjarmasin, Kalimantan Tengah ibu kotanya Palangka Raya, dan Kalimantan Barat ibu kotanya Pontianak.
Kelompok Suku Dayak, terbagi lagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka.
Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan. Kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar,seperti melayu menyebabkan mereka menyingkir semakin jauh ke pedalaman dan perbukitan di seluruh daerah Kalimantan.
Mereka menyebut dirinya dengan kelompok yang berasal dari suatu daerah berdasarkan nama sungai, nama pahlawan, nama alam dan sebagainya. Misalnya suku Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa kayan, ivan = pengembara) demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka menyebut dirinya dengan nama suku Batang Lupar, karena berasal dari sungai Batang Lupar, daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia. Suku Mualang, diambil dari nama seorang tokoh yang disegani (Manok Sabung/algojo) di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang (karena suatu peristiwa) dan kemudian dijadikan nama suku Dayak Mualang. Dayak Bukit (Kanayatn/Ahe) berasal dari Bukit/gunung Bawang. Demikian juga asal usul Dayak Kayan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain-lain, yang mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri.
Namun ada juga suku Dayak yang tidak mengetahui lagi asal usul nama sukunya. Nama "Dayak" atau "Daya" adalah nama eksonim (nama yang bukan diberikan oleh mayarakat itu sendiri) dan bukan nama endonim (nama yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri). Kata Dayak berasal dari kata Daya” yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat khususnya, (walaupun kini banyak masyarakat Dayak yang telah bermukim di kota kabupaten dan propinsi) yang mempunyai kemiripan adat istiadat dan budaya dan masih memegang teguh tradisinya.
Kalimantan Tengah mempunyai problem etnisitas yang sangat berbeda di banding Kalimantan Barat. Mayoritas ethnis yang mendiami Kalimantan Tengah adalah ethnis Dayak, yang terbesar suku Dayak Ngaju, Ot Danum, Maanyan, Dusun, dsb. Sedangkan agama yang mereka anut sangat variatif. Dayak yang beragama Islam di Kalimantan Tengah, tetap mempertahankan ethnisnya Dayak, demikian juga bagi Dayak yang masuk agama Kristen. Agama asli suku Dayak di Kalimantan Tengah adalah Kaharingan, yang merupakan agama asli yang lahir dari budaya setempat sebelum bangsa Indonesia mengenal agama pertama yakni Hindu. Karena Hindu telah meyebar luas di dunia terutama Indonesia dan lebih dikenal luas, jika dibandingkan dengan agama suku Dayak, maka Agama Kaharingan dikategorikan ke cabang agama Hindu.
Propinsi Kalimantan Barat mempunyai keunikan tersendiri terhadap proses alkurturasi cultural atau perpindahan suatu culture religius bagi masyarakat setempat. Dalam hal ini proses tersebut sangat berkaitan erat dengan dua suku terbesar di Kalimantan Barat yaitu Dayak,Melayu dan Tiongkok. Pada mulanya Bangsa Dayak mendiami pesisir Kalimantan Barat, hidup dengan tradisi dan budayanya masing-masing, kemudian datanglah pedagang dari gujarab beragama Islam (Arab Melayu) dengan tujuan jual-beli barang-barang dari dan kepada masyarakat Dayak, kemudian karena seringnya mereka berinteraksi, bolak-balik mengambil dan mengantar barang-barang dagangan dari dan ke Selat Malaka (merupakan sentral dagang di masa lalu), menyebabkan mereka berkeinginan menetap di daerah baru yang mempunyai potensi dagang yang besar bagi keuntungan mereka.
Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Dayak ketika bersentuhan dengan pendatang yang membawa pengetahuan baru yang asing ke daerahnya. Karena sering terjadinya proses transaksi jual beli barang kebutuhan, dan interaksi cultural, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, di kunjungi masyarakat lokal (Dayak) dan pedagang Arab Melayu dari Selat Malaka. Di masa itu system religi masyarakat Dayak mulai terpengaruh dan dipengaruhi oleh para pedagang Melayu yang telah mengenal pengetahuan, pendidikan dan agama Islam dari luar Kalimantan. Karena hubungan yang harmonis terjalin baik, maka masyarakat lokal atau Dayak, ada yang menaruh simpati kepada pedagang Gujarat tersebut yang lambat laun terpengaruh, maka agama Islam diterima dan dikenal pada tahun 1550 M di Kerajaan Tanjung Pura pada penerintahan Giri Kusuma yang merupakan kerajan melayu dan lambat laun mulai menyebar di Kalimantan Barat.
masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya, mereka percaya setiap tempat-tempat tertentu ada penguasanya, yang mereka sebut: Jubata, Petara, Ala Taala, Penompa dan lain-lain, untuk sebutan Tuhan yang tertinggi, kemudian mereka masih mempunyai penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tertingginya: misalnya: Puyang Gana ( Dayak mualang) adalah penguasa tanah , Raja Juata (penguasa Air), Kama”Baba (penguasa Darat),Jobata,Apet Kuyan'gh(Dayak Mali) dan lain-lain. Bagi mereka yang masih memegang teguh kepercayaan dinamisme nya dan budaya aslinya nya, mereka memisahkan diri masuk semakin jauh kepedalaman.
adapun segelintir masyarakat Dayak yang telah masuk agama Islam oleh karena perkawinan lebih banyak meniru gaya hidup pendatang yang dianggap telah mempunyai peradaban maju karena banyak berhubungan dengan dunia luar. (Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman). Pada umumnya masyarakat Dayak yang pindah agama Islam di Kalimantan Barat dianggap oleh suku dayak sama dengan suku melayu. Suku Dayak yang masih asli (memegang teguh kepercayaan nenek moyang) di masa lalu, hingga mereka berusaha menguatkan perbedaan, suku dayak yang masuk Islam(karena Perkawinan dengan suku Melayu) memperlihatkan diri sebagai suku melayu.banyak yang lupa akan identitas sebagai suku dayak mulai dari agama barunya dan aturan keterikatan dengan adat istiadatnya. Setelah penduduk pendatang di pesisir berasimilasi dengan suku Dayak yang pindah(lewat perkawinan dengan suku melayu) ke Agama Islam,agama islam lebih identik dengan suku melayu dan agama kristiani atau kepercayaan dinamisme lebih identik dengan suku Dayak.sejalan terjadinya urbanisasi ke kalimantan, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, karena semakin banyak di kunjungi pendatang baik local maupun nusantara lainnya.
Untuk mengatur daerah tersebut maka tokoh orang melayu yang di percayakan masyarakat setempat diangkat menjadi pemimpin atau diberi gelar Penembahan (istilah yang dibawa pendatang untuk menyebut raja kecil ) penembahan ini hidup mandiri dalam suatu wilayah kekuasaannya berdasarkan komposisi agama yang dianut sekitar pusat pemerintahannya, dan cenderung mempertahankan wilayah tersebut. Namun ada kalanya penembahan tersebut menyatakan tunduk terhadap kerajaan dari daerah asalnya, demi keamanan ataupun perluasan kekuasaan.
Masyarakat Dayak yang pindah ke agama Islam ataupun yang telah menikah dengan pendatang Melayu disebut dengan Senganan, atau masuk senganan/masuk Laut, dan kini mereka mengklaim dirinya dengan sebutan Melayu. Mereka mengangkat salah satu tokoh yang mereka segani baik dari ethnisnya maupun pendatang yang seagama dan mempunyai karismatik di kalangannya, sebagai pemimpin kampungnya atau pemimpin wilayah yang mereka segani.

Kamis, 23 Desember 2010

DAYAK EKSPLORER

Selama kurang lebih 45 menit, saya menonton sebuah film dokumenter era 1930-an, disebuah perkampungan dayak dipedalaman Borneo. Saya tidak tahu persis, siapa yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari Dayak ini, yang saya tahu hanyalah bahwa saya mendapatkan film ini dari kakak yang yang berprofesi sebagai suster dikongregasi SND, sekarang dia bertugas di perbatasan Flores-Timor Leste.
Film ini diawali dengan perjuangan 9 orang Dayak, yang mudik sebuah sungai dengan tiga buah perahu besar dan sangat panjang, mungkin panjangnya sekitar 6-8 meter. Tubuh mereka kekar dan berotot. Rambutnya dipotong (mirip pendekar shaolin). Mereka berteriak-teriak, saling memberi semangat. Dengan beberapa batang tongkat bambu, mereka menerjang arus sungai yang sedemikian deras, berliku, terjal dan penuh bebatuan. Terkadang, air sungai masuk diperahu dan harus dibuang. Didalam perahu, tampak seorang nenek, yang mungkin menderita sakit. Perahu juga dipenuhi beragam peralatan; pakaian layak pakai, obat-obatan, senjata api larang panjang, peluru dan sejumlah roti. Disepanjang sungai, rombongan beberapa kali terhenti, karena harus turun dan menarik perahu. Saya menyaksikannya mirip dengan sebuah olahraga sungai; arung jeram, tetapi ini bukan permainan olahraga, ini kehidupan nyata Dayak.
Slide berikutnya menceritakan pemandangan sebuah kampung Dayak. Tampak seorang lelaki sedang membuat batangan sumpit (alat tradisional) untuk menembak. 2 anak kecil asyik bermain dibatang-batang kayu yang tumbang dan lapuk. Mereka tidak berpakaian, perut mereka buncit. Seorang ibu, sedang membakar babi hutan, ia bertelanjang dada. Sesekali suara monyet memekakan telinga. Setelah batangan sumpit hampir selesai, seseorang yang sudah agak tua membidik dan mencobanya. Mungkin saja ia ahli dalam pembuatan sumpit. Prosesi pembuatan sumpit ini diiringi dengan permainan alat musik “genggong”, dimainkan seorang bocah dan ayahnya. Alat musik ini juga tradisional, karena terbuat dari kayu dan irisan bambu.
Pada slide berikutnya, serombongan besar orang dewasa berjalan kaki mengangkut peralatan dari perahu tadi. Mereka menuju kampung, yang dikelilingi pohon-pohon kelapa dan terletak dipinggir sungai. Dikampung, ibu-ibu dan anak-anak sedang memainkan musik; ada gong, dau, dll. Mereka bersuka cita.
Slide berikutnya, warga kampung sedang melangsungkan prosesi upacara adat diperladangan. Mereka menggelar “baburukng”, yang bertujuan mohon petunjuk Jubata untuk membuka ladang dihutan terdekat. Seorang imam berdoa dengan melengking, beberapa orang menyiapkan peralatan. Di udara, seekor elang berputar-putar dengan gagahnya. Ia mendengar bunyi keras dari sebuah gong yang ditabuh warga. Yang unik, seekor anak ayam ditusuk hidup-hidup (mirip disate), ditempatkan disebuah pohon. Elang berputar-putar tepat dipohon ini. Sepulang dari lokasi upacara, mereka kembali menggelar tari-tarian diperkampungan. Lelaki dewasa menarikan tarian perang, dengan peralatan perang yang unik.alat musiknya hanyalah sebuah “sape’, yang dimainkan seorang pemuda, mirip shaolin kung fu. Malam harinya, mereka menggelar ritual lagi dirumah panjang. Mereka membersihkan tengkorak kepala hasil pengayauan (perburuan kepala/head hunter).
Pada slide berikutnya, tampak seorang gadis memberi makan ternak, utamanya ayam. Ia mengurung ayam disebuah “kurungan” keci dan dinaikan keatas (mirip memelihara burung). Di sungai, 6 orang anak bertelanjang bermain lanting. Dengan sebatang kayu lempung, mereka menerjang ombak, arus sungai yang deras. Mereka terjun dari bebatuan yang terjal dan besar. Mereka seakan tidak takut, bahaya.
Diseberang, serombongan lelaki baru pulang dari ladang dan perburuan. Seorang kakek sedang memanggul seekor babi hutan, hasil buruan. Mereka melintasi “jembatan” gantung, yang terbuat dari anyaman bambu dan rotan. Beberapa ekor anjing mengiringi perjalanan kakek ini. Tak jauh dari rumah, seorang nenek sedang makan sirih (ngampa’) dan menganyam caping(tarinak). Beberapa lainya sedang menganyam tikar dari rotan (bide). Disudut kiri, seorang kakek dengan menggunakan sebatang bambu mengiris tembakau hutan, sebagai bahan dasar rokok. Disampingnya, 2 anak berusia sekitar 5 tahun sedang merokok dengan santainya. Dikejauhan, kakek menjemur tembakau yang sudah diiris, ia diatas batu, tepian sebuah sungai besar.
Pada slide berikutnya, tampak warga kampung mengalami kesedihan. Seorang warga meninggal dunia. Lelaki dewasa menyiapkan segala keperluan upacara pemakaman. Anak-anak tak tampak, mereka dikurung diatas. Jenazah dipanggul dan dibawa disebuah sungai untuk dinaikan perahu. Jenazah sudah diberi pakaian lengkap, layaknya pendekar sakti. Setelah sampai disungai, jenazah ini dimasukan disebuah peti mati dan dinaikan disebuah perahu untuk diseberangkan. Tiba diseberang, peti mati dinaikan diatas para-para (pondok khusus) dan disimpan disitu. Beberapa lama kemudian, peti mati diturunkan. Tengkorak, dan tulang belulang dikumpulkan dan dimasukan di sebuah jare (pemanggul padi) untuk kemudian disemayamkan. Tulang-belulang ini kemudian dimasukan disebuah tempayan dan dipasang diatas ukiran kayu yang dibuat khusus untuk penyimpanan abu dan tulang belulang. Jadi, kuburan zaman dahulu tidak ditanam dalam tanah, tetapi dipohon kayu.
Pada slide berikutnya, warga kampung sedang menuba ikan disungai, dengan menggunakan tanaman tuba. Mereka mencari ikan sungai. Tua muda, lelaki perempuan semua bekerja. Sebagian kecil memasak nasi di dalam bambu, dan memasak ikan, juga didalam bambu. Tidak ada piring zaman itu, termasuk sendok yang hanya terbuat dari bambu yang diukir sedemikian rupa. Tak jauh dari arena masak, seorang bocah menggigit batangan tebu.

Kamis, 16 Desember 2010

belajar sofware handphone tanpa guru..

                        "FILE TUKANG NYAYUR"

            BIAR DIKATE FILE KITE TUKANG NYAYUR, JANGAN LUPA BRDO'A DULU SEBELU MEMBACA"

                                November 2010
HP MATI ;

**Backup RPL--> pilih RAP, (dgn syarat);-->IC Flash ke'detect...

ERASE: (MX KEY); advance->get addres-> centang safa erase di ilangin-> erase flash...
        *000000-->01FFFFFF
        *01F00000-->01FFFFFF


*SL3
ex:_ 5130: *RPL-->hp normal, backup full-->35......RPL
       *PM--> hp normal, backup PM-->35........PM

**Blank Putih: *Info...LCD
         *tdk bs info...->backup RPL/RAP...35.....rpl
         *write flash, ok..]
         *info...:___simlock..
            __scrty..
            __....
         *Reset All/Full Factory... mslkn slsai,tp nokia putih mati-->dgn vrsi tertggi BI..

**BI: -->info-->ok., -->lht versin tertggi, PPM+CNT

**BB5 Format FS-->galery"-->ex: memori full, lemot : format FS,write flash, info, full factory..

"Format User Area"
**DCT4..6230,9300,9500,,
**BB5..conret-->1.coba Full Factory, backup RPL, Upload PM..
**WD2..3 jari..biasa conret...

"PM"...
*GSM_ upload bebas..Wr PM, init simlock, full factory
CDMA__(langkah sama dgn GSM) hnya tnpa init simlock, full factory, & PM harus versi yang sama..

BB5:--> scan-->versi...
    *init silock..passed.
    *superdongele passed
    *simlock test paseed
    *scurity test passed.

1. init simlock(tulisan merah)
    *langkah service-->imei scurity-->
simlock->*repair simlock->make simlock rpl->update sp lock (syarat bukan sl3)
2. superdongle/WD
    *langkah service-->imei & scurity-->
imei rebuild->repair SD->superdongle ok...upload PM

conser --> di self test: *soft :*PPM validity,*flash hchecsu,*scurity failed
             *hard :*EAR data loop, *IO control loop,*sim lock loop

simlock invalid--> conser: superdongle: WD, 3 menit mati...repair SD->service, imei & scurity,
repair SD, terus masukin PM, ......scurity test failed...



restart->sampai tgl mati->nyala lagi->biasanya bisa di info : PPM+CNT, flash..dgn versi sama..
memory full.. (langkah service s/d 'restart)

quick fix : []BB5 SW downgrade, (jika tdk pnya versi lbh tggi,tp backup RPL"plih RAP")

[]BB5 RAP3NAND, erase user area...
    *IC flash jenis NAND..ax: n95,6120, n97, 5610, e71,e63...etc "
    *biasanya kerusakn blank biru"
    *lankah terakhir :
**1. backup RPL,
**2. erase user area(syaratSL1,SL2,,"SL3_blm bisa")
**3. flash MCU+PPM+CNT..
**4. Restore imei
**5. repair simlock,[]make simlock RPL
**6. repair SD-> superdogle ok...
**7. upload PM,->.klik super SD auth, [/]load rfbb, WRITE...


KAMERA SIAP: scan-> phone test, camera, scan, load DCC, ....

provider not fund..init simlock....

RPL: DCT4/WD2/CDMA
*cek imei UM, bus check(mx key)
kalau bagus ex:35....
langkah service; online longger->login..(ad plihn)
*DCT4...............->asic type 2 & 5
*DCT4PLUS...........->asic type 11
*DCT4IMEI+PRODUCT..._>khusus tipe CDMA (6275,2865)

BB di mx key hanya unlock...

*conret_(scan pake mx key az...!!!)

**3315/3310: konser-->ERASE... *awal (00200000) di gnti (00400000)... flash..!!

**simcard notn valid/telepon di batasi/jaringan terkunci:
    *service: 1. hp nnormal/hp luar: maka simlock corupt--> repair--> info(ket. pling bwh close(tdk open)
     {MX key} init simlock->update simlock...// {UFS} init simlock... full factory..
**3650...nokia kedip; full factory format user area.
**signal hilang: *pro. code (kosong)
         *BP code   (kosong)
         *..........(kosong)
         *..........(kosong)

**scurity test failed--> PMM Auth...(jika gagal) recover CERT....(cek kamera)











SONY ERICSSON

**"SEtool":Main(os)+FS(apac/bahasa)+cust(aplikasi,game)

ngflash bisa lewat tornado, box(se_tool), USB


ngflash lewat box: (lihat com) dari control panel->divece manager
ngflash lewt USB : tergntg hp'na_
ngflash lewt ternado: tnpa driver->intrfas pilih UFS..

jenis PDA->P990, P1, W960, w950, m600, -> by USB->tekan C....


K550: *CID51, CID52, CID53....setting single mode di centang....

jenis kerusakan hp:

*balank putih, nyala keypad, incorect simcard:->GDFS(global data file system)-> imei..
*sim not valid, phone lock:->unlock n' repair..
*red blingking: SfW biasa..
configuration error: jika yakin flash kosong aj...(lihat setting)

cara:
1. pilih hp...
2. CID 50-53 mengunakan reset/recovery...(single mode)
3. hp jadi BROWN-> GDFS..
4. masukan file RED..
5. Flash...

langkah repair GDFS..
1. pilih hp,..
2. klik recovery, hp jadi BROWN
3. klik empty fil & repair..
4. plih hp.
5. masukan GDFS, masukan erom...(add file'na)
6. flash...
flash tanpa data (setting custom phone after flash)

GDFS--> sesuai type hp,..
ERROM-> sesuai chipset..
(mengembalikan BROWN jadi RED)


FLASH BIASA:
1. pilih type hp,,,
2. lihat CID..
3. pilih data sesuai dgn CID..
4. main + fs
5. flash....( mga berhasil ya boss)
    (mulai CID 50-->53 di setting single mode(centang)

puji syukur dsn terima kasih ya Tuhan, begitu besar karya'Mu buat kami, sedikit ilmu yang kami pelajari
biarlah bermanfaat untuk kami kedepan'na nanti.. biarlah menjadi terang jalan kami menempuh masa depan..
                        AMIN..

kehidupan yang tersembunyi..

God blees everybody...

subang_holiday_